Tim OMI RISET Matsaneda Gelar FGD Modul Kurikulum Adaptif Bencana Bersama Stakeholder di Ngargomulyo


Dukun, Magelang — Tim OMI RISET Matsaneda dari MTs Negeri 2 Kota Magelang melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah pemangku kepentingan (stakeholder) untuk memaparkan dan mendiskusikan Modul Kurikulum Adaptif Bencana. Kegiatan ini berlangsung di SD Negeri Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, dalam suasana yang lancar, kondusif, dan penuh semangat kolaborasi.

Kegiatan FGD ini menjadi salah satu langkah penting dalam pengembangan modul pembelajaran yang adaptif terhadap kondisi kebencanaan, khususnya bagi satuan pendidikan SD/MI yang terdampak erupsi gunung api. Diskusi difokuskan pada pemaparan serta penelaahan modul guru dan buku kegiatan siswa sebagai perangkat pembelajaran yang diharapkan dapat mendukung keberlangsungan pendidikan dalam situasi bencana.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala SD Negeri Ngargomulyo, Kepala MI GUPPI Ngargomulyo, Kasi Kurmintu SD Dinas Pendidikan, Pengawas SD, Sekretaris Desa (Sekdes) Ngargomulyo, Kepala Desa Ngargomulyo, Kepala MTs Negeri 2 Kota Magelang, Kabid Kebudayaan, serta relawan bencana Desa Ngargomulyo. Kehadiran berbagai unsur pendidikan, pemerintahan, dan relawan kebencanaan ini menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan masyarakat di wilayah rawan bencana.

Dalam sesi diskusi, Tim OMI RISET Matsaneda memperoleh berbagai insight positif, masukan, serta saran konstruktif dari para peserta. Berbagai pandangan yang disampaikan menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan substansi modul guru dan buku kegiatan siswa agar lebih kontekstual, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik serta kondisi pembelajaran di daerah terdampak erupsi.

Masukan dari para pemangku kepentingan tersebut memiliki peran penting dalam proses pengembangan modul penelitian. Melalui diskusi dan pertukaran gagasan, diharapkan perangkat pembelajaran yang disusun tidak hanya mendukung pencapaian kompetensi akademik, tetapi juga membantu membangun pemahaman, kesiapsiagaan, dan kemampuan peserta didik dalam menghadapi situasi kebencanaan.

Pelaksanaan FGD ini sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara madrasah, sekolah, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadirkan inovasi pendidikan yang responsif terhadap tantangan lingkungan. Kolaborasi lintas sektor menjadi modal penting untuk menghasilkan modul pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik wilayah serta kebutuhan satuan pendidikan yang berada di kawasan rawan bencana.

Melalui kegiatan ini, Tim OMI RISET Matsaneda berharap pengembangan Modul Kurikulum Adaptif Bencana dapat terus disempurnakan berdasarkan hasil kajian dan masukan para pemangku kepentingan. Dengan demikian, modul yang dihasilkan diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan pendidikan yang tangguh bencana, khususnya bagi peserta didik SD/MI di wilayah terdampak erupsi.

Matsaneda terus berinovasi, berkolaborasi, dan berkontribusi untuk mewujudkan pendidikan yang adaptif, tangguh, dan berkelanjutan di tengah tantangan kebencanaan.

prestasi madrasah terbang tinggi mendunia kota magelang kemenag

Berita Terkini

Kolom Komentar


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *